Leukemia Granulositik Knonik atau LGK adalah kanker yang menyerang sumsum tulang belakang yang menyebabkan pertumbuhan pesat sel pembentuk darah yang disebut myeloid precursors di tulang sumsum, darah tepi dan lapisan tisu.
Penyakit ini bukan penyakit turunan. LGK adalah tipe Leukemia yang tidak umum dengan kemungkinan rasio 1/100,000. Umumnya, LGK menyerang orang dewasa di usia 50-an walaupun 2% dari LGK menyerang anak-anak. LGK dideteksi dari kondisi Philadelphia Chromosome (Ph).
Umumnya pasien tidak menunjukkan gejala yang jelas. Beberapa gejala antara lain kelelahan, menurunnya berat badan tanpa sebab, pendek napas (mudah terengah-rengah) dan kelihatan pucat karena anemia. Penyakit ini umumnya dilihat dari produksi neutrofil (sel darah putih yang melawan infeksi) yang amat melebihi batas dan pasien LGK yang menjalani tes darah rutin akan menunjukkan jumlah sel darah putih yang sangat tinggi. Dalam pemeriksaan fisik seringkali memperlihatkan kondisi limpa yang membesar.
Umumnya LGK mengalami 3 fase: chronic, accelerated dan blast. Fase chronic umumnya 5 tahun dan kemudian pasien memasuki fase yang didefinisikan sebagai fase lanjutan yang disebut sebagai fase accelerate selama kira-kira setahun yang kemudian berlanjut ke fase blast crisis yang terminal, umunya antara 3-6 bulan.
Fase Accelerated diasosiasikan dengan menurunnya kesehatan pasien dan memerlukan penanganan intensif untuk mengontrol splenomegaly (pembesaran limpa) dan jumlah sel darah putih.
Dalam Blast Crisis, pasien mungkin mengalami demam, infeksi, pendarahan, sakit tulang dan ketidaknyamanan di bagian limpa. Kematian biasanya disebabkan oleh demam atau pendarahan atau keduanya.
Obat-obatan sitotoksin seperti Hydroxyurea (Hydrea) dapat digunakan untuk menurunkan jumlah sel darah putih. Obat ini adalah kemoterapi dan berfungsi (survival) selama 3-7 tahun tanpa adanya respons sitogenetik.
Interferon-alpha dapat mendorong remisi sitogenetik dalam beberapa pasien (10-15% remisi komplit) dan mengurangi presentase kromosom Philadelpia, umumnya memberikan waktu kira-kira 1-2 tahun tambahan survival dibandingkan dengan perawatan dengan Hydroxyurea.
Saat ini baru Allogeneic Stem Cell Tranplantation (SCT) yang merupakan treatment penyembuhan.
Glivec (atau Gleevec, Imatinib Mesylate) yang merupakan sebuah inhibitor aktifitas tyrosine kinase BCR-ABL telah terbukti dapat meningkatkan rata-rata remisi sitogenetik sempurna dalam pasien LGK dibandingkan dengan Interferon-alpha. Pada pasien yang baru didiagnosa, obat ini telah berhasil mencapai rasio remisi sigenetik sempurna sebesar 70% dan memberikan harapan baru bagi pasien LGK. Glivec masih merupakan obat baru (kira-kira 6 tahun) sehingga data jangka panjang belum tersedia namun inhibitor molevular ini adalah cara perawatan LGK yang baru. Sekarang Glivec umumnya merupakan terapi tahap pertama bagi pasien LGK di seluruh dunia.
Nama: Kartika Widjaja
Usia: 50th
Alamat: Sudagaran 6, Purwokerto 53141
GIGAP ID: IDWID025903
Masuk Program: Agustus 2007
Saya menderita LGK sejak Mei 2004, saya mengalami ketertekanan yang luar biasa karena selama 2,5 tahun saya membeli obat (Gilvec) secara mandiri dengan dibantu oleh perusahaan dan keluarga besar. Mengingat karena harga Gilvec sangat mahal akhirnya pada awal tahun 2007 saya memutuskan untuk berhenti meminum obat, sekalipun telah diberi tahu, bahwa stop minum obat (Gilvec) bisa menyebabkan resisten, tetapi apa mau dikata saat itu kemampuan daya beli saya terhadap Gilvec sudah tidak ada.
Sampai pada bulan July 2007, saya memeriksakan kondisi saya, ternyata leukosit sudah mulai mencapai 44.000 dan thrombosit 1,9 juta. Kebingungan pun melanda yang akhirnya mendorong saya untuk membuat surat kepada seorang dokter yang bernama dr. Fauzan, dan beliau memberitahukan saya adanya program GIGAP dalam Himpunan Masyarakat Peduli LGK, akhirnya saya mengikuti program ini setelah diperiksa oleh Prof. Dr. Ary Haryanto Reksodiputro, dan setelah berhasil mengikuti program Gilvec tersebut sejak Agustus 2008 saya bisa mendapatkan kembali Gilvec secara terjangkau.
Saya pun sangat bersyukur dengan adanya program ini, karena keluarga masih sangat membutuhkan saya, Tuhan telah memberikan jalan dan berkat melalui program ini.
Saya pun ingin mengucapkan terimaksih kepada Notaris, Prof. DR. Ary Reksodiputro, YKI yang telah menjadi saluran berkat dari Tuhan, semoga Tuhan melimpahkan Berkat dan KaruniaNya.
Waspadai Leukemia Pada Anak
Kanker yang paling sering menyerang anak adalah leukemia. Menurut Prof. Dr. Djajadiman Gatot, SpA (K), dari Bagian Hematologi dan onkologi Anak FKUI-RSCM, sebanyak 15%-20% kasus leukemia setiap bulannya terjadi pada anak, dengan anak laki-laki lebih banyak daripada perempuan.
Terjadinya leukemia pada anak disebabkan bertambahnya sel darah abnormal secara berlebihan dan tidak terkendali. "Penyebarannya ke seluruh bagian tubuh mengakibatkan gangguan atau merusak fungsi tubuh,"jelasnya.
Tanda-tanda yang perlu dikenali dalam leukemia ini, antara lain sakit kepala, mual, muntah, kesadaran menurun, kejang, pucat mendadak, panas, pendarahan, nyeri sendi sampai gagal ginjal. Hati mengalami pembengkakan dan testis mengalami pembesaran.
Bila ada tanda demikian, orang tua perlu segera membawa anaknya ke dokter untuk melakukan pemeriksaan secara lengkap. Jika anak tersebut dinyatakan menderita Leukemia, pengobatan kemoterapi masih menjadi langkah utama untuk mengatasinya. Hanya dengan penemuan kanker sejak dini dan pengobatan teratur pulalah yang menjadi kunci penyembuhan leukemia.